image image image
  • Produksi ikan per semester 2010
    Produksi ikan per semester, 2010 Dinas Perikanan dan Kelautan Buleleng.
  • 6 Preset Styles - 18 Combinations
    6 stunning preset styles, in a mix of light and dark, each with 3 visual intensity levels.
  • Kegiatan Konservasi dan rehabilitasi, Sumberdaya Perairan dan Laut
    Konservasi dan rehabilitasi, Sumberdaya Perairan dan Laut.

Kegiatan Konservasi dan rehabilitasi, Sumberdaya Perairan dan Laut

image

Konservasi dan rehabilitasi, Sumberdaya Perairan dan Laut.

Kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Laut

Secara garis besar pelaksanaan kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Laut yang dilaksanakan oleh Seksi Konservasi, Tata Ruang Laut dan Pesisir Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng terbagi dalam 4 sub kegiatan utama yaitu:

Peningkatan pemahaman dan partisipasi aparatur - nelayan dalam melakukan rehabililtasi lingkungan perairan dan lautkhususnya terumbu karang sebagai bagian dari pemanfaatan perikanan berkelanjutan.

Beberapa kegiatan dalam rangka peningkatan pemahaman dan partisipasi aparatur - nelayan dalam melakukan rehabilitasi lingkungan peraian dan kelautan yaitu:

a. Pembentukan Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat

Dalam beberapa dekade terkahir ini laju pemanfaatan sumberdaya pesisir bagi pembangunan semakin pesat. Hal ini terlihat dari aktivitas ekonomi yang memanfaatkan sumberdaya pesisir dan jasa. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut menimbulkan fenomena kerusakan lingkunganpesisir karena pemanfaatan sumberdaya pesisir tersebut kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi. Di beberapa kawasan pesisir yang padat penduduk dan tinggi intensitas pembangunannya, terjadi lajukerusakanbiogeo-fisiklingkunganhabitatutamapesisirseperti kerusakanmangrove,terumbukarang,padanglamun, estuaria, termasuk intensitas pencemaran dari darat, dan abrasi pantai telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Sementara itu, penduduk pesisir itu pada umumnya dan sebagian besar masih dalam kondisi miskin disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya: akibat produktivitas sumberdaya yang semakin berkurang, kerusakan lingkungan, dan budaya yang kurang progresif. Kemiskinan dan kelangkaan lapangan kerja bagi masyarakat pesisir sering mendorong laju eksploitasi sumberdaya pesisir melalui penggunaan berbagai bahan/alat yang tidak ramah lingkungan, seperti racunsianida, pengambilan terumbukarang untuk tujuan jangka pendekdan perambahan hutan mangrove. Di sisi lain banyak wilayah pesisir yang potensial tetapi belum tersentuh pembangunan secara maksimal, sehingga sumberdaya belum bermanfaat bagi pembangunan nasional dan daerah.

Untuk mengurangi sebagian laju kerusakan biofisik lingkungan pesisir dan konflik pemanfaatan, maka perlu diterapkan pendekatan daerah perlindungan laut (DPL) skala kecil baik itu skala desa desa (village based marine sanctuary) ataupun skala kawasan (beberapa desa/ maupun kecamatan).

Daerah Perlindungan Laut Berbasis-Masyarakat (DPL-BM) adalah daerah pesisir dan laut yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan sumberdaya serta dikelola oleh masyarakat setempat. Kegiatan perikanan dan pengambilan merupakan hal terlarang di dalam kawasan DPL-BM. Demikian pula akses manusia di dalam kawasan DPL-BM diatur atau sedapat mungkin dibatasi. Pengaturan, pembatasan, dan larangan aktivitas tersebutditetapkanolehmasyarakat danpemerintahsetempat dalam bentukPeraturanDesa

Pada beberapa desa di Kab.Buleleng sebenarnya ada yang telah membentuk Daerah Perlindungan Laut, misalnya Desa Bondalem, Julah, dll bahkan telah ditetapkan melalui Peraturan Desa.Namun tampaknya Daerah Perlindungan Laut ini belum dapat memberikan hasil yang maksimal.Berkaitan dengan hal tersebut maka pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng pada tahun 2009 telah menyusun Pedoman Penyusunan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat yang isinya banyak diangkat dari pengalaman dan pembelajaran di beberapa desa lainnya di Indonesia yang telah berhasil. Pengalaman baik di daerah lain ini diharapkan menjadiacuanbagisegenapwargadesa di Kab. Buleleng.

Sampai akhir tahun 2009, desa-desa di Kabupaten Buleleng yang telah memiliki Daerah Perlindungan Laut yaitu: Desa Umeanyar (5 ha), Desa Julah (10 ha), 3) Desa Bondalem (20 ha), Desa Tejakula (10 ha), Desa Sambirenteng (10 ha), dan sedang dilakukan inisiasi di Desa Penuktukan.

Wakil Bupati Buleleng saat meresmikan Daerah Perlindungan Laut Desa Tejakula

Peta Lokasi Daerah Perlindungan Laut Desa Tejakula (panjang 1 km dan lebar kearah laut 100 m)


b. Pelatihan Selam bagi Pemerhati Terumbu Karang

Pelatihan Selam ini berlangsung selama 6 hari yaitu dari tanggal 27 Juli 2009 s/d 1 Agustus 2009.

Pelatihan Selam ini bertujuan untuk mencetak sumberdaya manusia yang nantinya diharapkan dapat menjadi voulenteer- voulenteer pemerhati lingkungan khususnya terumbu karang. Kegiatan pelatihan selam ini merupakan kegiatan pelatihan selam yang pertama kali dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng dan merupakan salah satu kegiatan dari Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan khususnya pada Kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Kelautan Tahun 2009

Kegiatan pelatihan selam ini merupakan kerjasama antara Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng dengan Yayasan Alam Indonesia Lestari, dimana Yayasan Alam Indonesia Lestari menugaskan 2 (dua) orang instruktur selam mereka untuk menjadi instruktur dalam pelatihan selam ini. Pelatihan selam ini diikuti oleh 10 orang yang merupakan wakil dari Kelompok Nelayan Banyu Mandi – Pejarakan, Kelompok Nelayan Sari Indah – Patas, Kelompok Nelayan Bakti Samudra – Temukus, Kelompok, Kelompok Nelayan Cipta Karya Bakti Samudra – Kalibukbuk, Kelompok Nelayan Taman Sari Rahayu– Buleleng, Kelompok Nelayan Mina Bakti Soansari – Les, Kelompok Nelayan Naga Sari – Les, Kelompok Nelayan Swaka Citra Bahari – Sambirenteng, Kelompok Sadar Wisata Taman Segara– Penuktukan, Kelompok Tunas Mekar Sari – Tembok. Selain dari 10 nelayan tersebut, pelatihan ini juga diikuti oleh 10 orang staf dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng sehingga total peserta adalah 20 orang. Dari 20 orang peserta, 5 orang peserta mendapatkan setifikat Basic Diver dari ADS Jepang

Kegiatan pelatihan selam ini, dalam pelaksanaannya dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: Pemberian materi di kelas, pengenalan teknik selam di kolam renang, serta penyelaman di laut. Adapun materi-materi yang akan diberikan adalah sebagai berikut:

- Pada Hari Pertama

Kegiatan akan dilakukan di Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng dengan materi yang akan disampaikan adalah:

1. Pengenalan Alat Dasar, dan Pengenalan Alat Selam (Scuba)

2. Fisika Penyelaman

3. Biologi Penyelaman

4. Basic Rescue

5. Test Tulis

- Pada Hari ke-dua

Kegiatan akan dilakukan di kolam renang Hotel Hawaina, kegiatan ini merupakan pengenalan materi dan praktek yang merupakan standar dalam pelatihan selam dan merupakan pengenalan awal mengenai teknik penyelaman sebelum masuk ke laut. Adapun materi yang akan disampaikan adalah:

1. Pengenalan Skin diving, cara bernafas dengan snorkel teknik membilas masker dan snorkel (clearing) dan berenang menggunakan fin Teknik masuk air (giant Stride, sitting front entry, back roll), teknik surface dive, teknik mengambang (floating) dan water trappen.

2. Teknik masuk air ( giant Stride, sitting front entry, back roll), teknik surface dive, teknik mengambang (floating) dan water trappen.

3. Test Kemampuan Kolam.

- Pada hari ke-Tiga

Kegiatan ini dilakukan di laut yaitu di sekitar Pantai Lovina. Adapun materi yang akan disampaikan adalah:

1. Persiapan perakitan alat SCUBA , pemakaian alat SCUBA di permukaan, bernafas dengan regulator, masker clearing, regulator clearing, regulator recovery, membuka dan memakai alat (BCD dan weight belt) di dasar perairan dan fin pivotting.

2. Octopus sharing dan buddy breathing, hovering, pelepasan dan perawatan peralatan.

3. Pre-Dive Safety Check (PDSC), free flow, simulasi kram kaki, tired diver tow dan naik darurat terkontrol.

- Pada hari ke-Empat

Kegiatan ini dilakukan di laut yaitu di sekitar perairan Pulau Menjangan. Adapun materi yang akan disampaikan adalah:

1. Evaluasi umum kondisi area penyelaman.

2. Perakitan, pemakaian peralatan dan pre-dive safety check dalam sistem mitra selam

3. Kemampuan menggunakan alat selam dan teknik penyelaman serta koordinasi dan komunikasi dalam sistem mitra

4. Jelajah Penyelaman.

- Pada hari ke-Lima

Kegiatan ini dilakukan di laut yaitu di sekitar perairan Pantai Asri. Adapun materi yang akan disampaikan adalah:

1. Evaluasi umum kondisi area penyelaman.

2. Perakitan, pemakaian peralatan dan pre-dive safety check dalam sistem mitra selam

3. Kemampuan menggunakan alat selam dan teknik penyelaman serta koordinasi dan komunikasi dalam sistem mitra

4. Jelajah Penyelaman.

- Pada hari ke-Enam

Kegiatan ini dilakukan di laut yaitu di Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng. Adapun materi yang akan disampaikan adalah:

1. Pengenalan Terumbu Karang dan Biota Laut.

2. Pengenalan Terumbu Buatan dan Fungsinya

3. Pengelolaan Pesisir dan Laut

Peserta Pelatihan Selam saat selesai melakukan penyelaman di Pulau Menjangan

Peserta Pelatihan Selam sedang melakukan penyelaman di Peraiaran Pulau Menjangan


c. Pemasangan Papan Pengumuman

Papan Pengumuman yang berada di Pantai Banyuwedang

Melalui kegiatan ini telah dilakukan pemasangan papan pengumuman tentang pentingnya pelestarian perairan dan laut.Melalui papan pengumuman ini pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.Buleleng berupaya mensosialisasikan tentang pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang. Jargon yang selalu digunakan adalah “Karang Sehat, Ikan Sehat, Nelayan Sehat, Ekonomi Berkelanjutan”. Melalui jargon ini diharapkan masyarakat mau menjaga kelestarian terumbu karang, karena hanya dengan terumbu karang yang sehatlah maka ikan yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir keberadaannya dapat terjaga, serta dengan keberadaan ikan yang terjaga tentunya mengakibatkan kebutuhan nelayan dapat tercapai sehingga pembangunan dapat berkelanjutan. Pada tahun 2009 telah berhasil dilakukan pembuatan dan pemasangan 5 unit papan pengumuman dengan lokasi di pantai Desa Sumberkelampok, Labuhan Lalang, Pantai Banyuwedang, pantai di dusun Mandarsari desa Sumberkima, pantai dusun Sumberpao desa Sumberkima.

d. Aktif ikut serta dalam forum-forum ataupun rapat-rapat koordinasi dan Bimbingan Teknis terkait kegiatan rehabilitasi lingkungan perairan dan laut, antara lain:

- Rapat Koordinasi Pemanfaatan Ikan Hias Karangasem – Buleleng;

- Rapat Koordinasi dengan PT. Indonesia Power terkait dengan Rencana Pengkajian Lumba-Lumba dan Terumbu Karang di Lovina;

- Rapat Koordinasi Pengelolaan Pesisir Terpadu Bali (ICM);

- Rapat Koordinasi Pembentukan Kawasan Konservasi Peraiaran dengan pihak Balai Riset Obervasi Kelautan – Jembrana

- Mengikuti Bimbingan Teknis Konservasi di Lombok, dll

Transplantasi Terumbu Karang dan Pemeliharaan

Kegiatan Transplantasi Terumbu Karang ini dilaksanakan dengan bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu CV. Graha Palimanan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (Kontrak) Nomor 027/ 45/ DISKANLA tanggal 8 Oktober 2009.

Secara garis besar kegiatan ini terdiri dari dua bagian yaitu pengadaan block sheet terumbu karang sistem hexadome (2 unit) serta block sheet terumbu karang model roti buaya.

a. Terumbu Karang dengan Metoda Hexadome (kubah)

Terumbu karang dengan metoda hexadome yang ditanam adalah sebanyak 2 unit dengan spesifikasi:Lebar =100cm, Tinggi =80cm, bahan semen, pasir, kerangka besi dan kalsium dengan jumlah stek karang adalah sebanyak 20 buah/hexadome. Transplantasi terumbu karang dengan metoda hexadome ini sangatlah baik karena selain sebagai upaya rehabilitasi terumbu karang, juga dapat berfungsi sebagai rumah ikan.

b. Terumbu Karang dengan Metoda Roti Buaya

Terumbu karang dengan metoda roti buaya yang ditanam adalah sebanyak 8 unit dengan spesifikasi:Panjang=130cm, Lebar=50cm, Tinggi=50cm, Bahan semen, batu kapur, pasir dan kalsium. Keistimewaan tranpslantasi terumbu karang dengan metoda roti buaya ini adalah dimana saat terumbu karangnya telah tumbuh akan sangat tampak alami.

Penanaman blocksheet terumbu karang ini seluruhnya dilakukan di perairan desa Temukus Kecamatan Banjar dengan kedalaman perairan antara 5m -6 m dengan jenis karang yang ditranplantasikan adalah dari famili Acropora.

Foto terumbu karang transplantasi metoda Roti Buaya

Foto terumbu karang transplantasimetoda Hexadome


Selain upaya rehabilitasi terumbu karang yang berasal anggaran Pemerintah Kab. Buleleng, pada tahun 2009 juga dilakukan rehabilitasi terumbu karang oleh beberapa lembaga lain seperti Yayasan LINI maupun lembaga swasta lainnya.

Untuk kegiatan pemeliharaan hasil transplantasi dilakukan dengan menugaskan kepada 12 orang nelayan yang diambil dari seluruh peserta selam ditambah 2 orang nelayan dari desa Les dan Bondalem.Kegiatan pemeliharaan ini berlangsung selama 5 bulan yaitu sejak bulan Agustus – Desember.

Penyediaan Sarana Monitoring dan Pemeliharaan Terumbu Karang

Sarana monitoring dan pemeliharaan terumbu karang menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Kelautan ini. Hal ini tentunya disebabkan kebutuhan akan sarana monitoring berupa alat selam maupun kamera bawah air merupakan hak yang wajib dimiliki jika akan melakukan kegiatan monitoring terumbu karang. Ditambah lagi dengan biaya sewa alat selam yang sangat mahal. Pada beberapa dive centeryang ada di Kab. Buleleng harga sewa alat selam mencapai Rp. 250.000/ set. Hal ini tentunya akan menambah biaya yang cukup tinggi pada saat akan dilakukan monitoring terumbu karang.

Pada tahun 2009, berhasil diadakan 2 (dua) set alat selam lengkap serta 1 (satu) set kelengkapan alat selam yang ditujukan untuk melengkapi alat selam yang telah dimiliki sebelumnya. Selanjutnya, 1 (satu) set alam selam (lengkap) diserahkan ke Desa Bondalem sebagai sarana monitoring terumbu karang yang ada di lokasi Daerah Perlindungan Laut Desa Bondalem. Sampai akhir tahun 2009, Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng telah memiliki 2 (dua) set alat selam lengkap serta 1 (satu) unit underwater camera.


Pelestarian Perairan Umum melalui Penebaran Benih Ikan

Perairan umum secara morfologis diberi pengertian sebagai bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari garis pasang surut ke laut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami atau buatan.

Semula berdasarkan batasan tersebut, yang termasuk perairan umum adalah : sungai (sungai mati, lebak lebung, saluran irigasi, kanal, estuary), danau, waduk, rawa, laguna, genangan air (telaga, embung, kolong-kolong, dan legokan-legokan). Perkembangan berikutnya, istilah perairan umum berkonotasi pada badan-badan air yang berair tawar saja.

Peran perairan umum dimanapun, diyakini sebagai simpanan plasma nutfah, bukan sekadar sumber ikan bagi pemenuhan kebutuhan ikan masyarakat mengingat hal itu, tujuan pengelolaan adalah pemanfaatan potensi biotik dan abiotik tanpa merusak kelestariannya. Eksploitasi perairan umum untuk mendapatkan produksi ikan harus menyisakan populasi yang akan lestari berkembang biak pada periode musim berikutnya. Dalam hal seperti ini pada suatu masa, bahkan sebaiknya lebih dini, perlu ditetapkan kawasan konservasi.

Pemanfaatan potensi abiotik perairan (air, tanah, badan air), misalnya sebagai media pembuangan limbah, secara perlahan akan mengubah kualitas air dan lingkungan. Masih banyak lagi pemanfaatan perairan umum yang berdampak seperti diatas, bahkan lebih buruk lagi, yang dapat mempengaruhi kehidupan biota akuatik. Gambaran inipun terlihat di Kabupaten Buleleng.

Pemanfaatan perairan umum di Kab. Buleleng akhir-akhir ini berkembang jenis dan frekuensinya,kecuali untuk kepentingan pertanian (pengairan), perikanan,industri yang membuang limbah juga pariwisata (wisata tirta). Hal ini telah menambah tekanan berat terhadap perairan.

Gambar 10:Danau Buyan

Secara sosial dampaknya terasa, karena perubahan kualitas air dan lingkungan perairan menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat yang menggunakan perairan umum sebagai tempat mandi, cuci, bahkan upacara keagamaan.

Upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian perairan umum di Kab. Buleleng belum berimbang dengan eksploitasinya.Kegiatan yang dapat dilakukan hanyalah Penebaran benih (restocking) yang sebenarnya memerlukan perhitungan dan persiapan,berlangsung rutin tanpa perencanaan yang cukup. Monitoring dan evaluasi efektifitas restocking tersebut memberi gambaran belum tepatnya penetapan jenis dan jumlah ikan yang ditebarkan. Pada masa mendatang semua itu harus dilakukan dengan lebih cermat, sehingga penetapan perairan umum lokasi/sasaran restocking sesuai dengan kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang.

Pada tahun 2009, kegiatan restocking yang telah dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng adalah sebagai berikut:

a) Tanggal 4 - 5Juni 2009

Penebaran yang dilakukan pada tanggal 4 – 5 Juni 2009,berlokasi di perairan sungai Desa Tamblang, Bengkala dan Bontihing dan tidak kurang dari 500 ribu ekor ikan Tawes ditebar pada saat tersebut.

Penebaran di sungai Desa Bengkala

b) Tanggal 13September 2009

Penebaran yang dilakukan pada tanggal 13September 2009 dilakukan di Danau Buyan Desa Pancasari Kecamatan Sukasada. Pada saat tersebut Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng bekerjamasama dengan Universitas Panji Sakti melakukan penebaran ikan sebanyak tidak kurang dari 35.000 ekor ikan Tawes, 5.000 ekor ikan Nila dan 10.000 ribu ekor ikan Mas.

Penebaran di Danau Buyan bersama Rektor Univ. Panji Sakti

c) Tanggal 17September 2009

Penebaran yang dilakukan pada tanggal 17September 2009 dilakukan di Dam Renon Desa

Gerokgak Kecamatan Gerokgak. Pada saat tersebut Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng bekerjamasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Bali melakukan penebaran ikan sebanyak tidak kurang dari 50.000 ekor ikan Tawes.

Penebaran ikan di Dam Renon - Gerokgak


d) Tanggal 18Oktober 2009

Penebaran yang dilakukan pada tanggal 18Oktober 2009 dilakukan di Dam Renon Desa Gerokgak Kecamatan Gerokgak. Pada saat tersebut Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng bekerjamasama dengan Universitas Panji Sakti melakukan penebaran ikan sebanyak tidak kurang dari 2.000 ekor ikan Tawes, dan Nila sebanyak 3.000 ekor.

e) Tanggal 21 Desember 2009

Kegiatan penebaran benih ikan yang dilakukan pada tanggal 21 Desember 2009dilakukan di Danau Buyan Desa Pancasari Kecamatan Sukasada, dan tidak kurang dari 50 ribu ekor ikan grass carp/ koan yang ditebar. Kegiatan penebaran ikan grass carp ini ditujukan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma yang ada di Danau Buya. Penebaran ini terlaksana atas kerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng, Departemen Kelautan dan Perikanan serta Yayasan Gerakan Kembali ke Desa.

Penebaran GrassCarp di Danau Buyan

Penebaran GrassCarp di Danau Buyan


f) Tanggal 27 Desember 2009

Dalam rangka mengdukung Gerakan Tanam, Tebar dan Pelihara 2009, pada tanggal 27 Desember 2009 Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kab. Buleleng kembali melakukan penebaran ikan di Kolam ikan SD 3 Banjar Jawa sebanyak 500 ekor ikan nila, Kelompok Pembudidaya Ikan Gajah Mina Dusun Pada Keling Kelurahan Banyuning - Kec. Buleleng sebanyak 15.000 ekor ikan Mas, Saluran Irigasi Panti Asuhan Desa Sawan – Kec. Sawan sebanyak 10.000 ekor ikan Tawes, Kolam Air Sanih Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan sebanyak 5.000 ekor ikan Nila, Subak Abian Desa Tamblang Kec. Kubutambahan sebanyak 13.000 ekor ikan Tawes.

Sehingga pada tahun 2009 total ikan yang ditebar tidak kurang dari 705.000 ekor.

Reorientasi Kebijakan terhadap Pola Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab. Buleleng, melalui penyusunan Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kab. Buleleng 2009-2027.

Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Buleleng telah berhasil menyusun Rencanan Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kab. Buleleng 2009-2027 dan pada tahun 2009 tepatnya tanggal 29 Juli 2009 Rencana Strategis ini telah ditetapkan melalui Peraturan Bupati Buleleng Nomo 32 Tahun 2009.

waktu Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan Kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Laut ini adalah selama satu tahun anggaran (Januari s/d Desember 2009) yang dalam pelaksanaannya melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Secara terinci dapat dilihat pada Lampiran 1.

Pembiayaan

Pembiayaan dari Kegiatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Lingkungan Perairan dan Laut ini sebagian besar bersumber dari APBD II Kab.Buleleng melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng Nomor 2.05/ 01/ 915/ 40/ DPA/ 2009 tanggal 30 Januari 2009 dan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng Nomor2.05/01/915/91/DPPA/2009 tanggal 25Agustus2009. Total anggaran kegiatan yang bersumber dari APBD II berjumlah Rp. 146.972.500. Dari dana Rp. 146.972.500 dana yang diserap/ direalisasikan sebesar Rp.143.265.500 (97,48%) dan sisanya merupakan sisa anggaran yang tentunya kembali ke kas negara yaitu sejumlah Rp. 3.707.000. Dari realisasi anggaran sebesar 97,48% diperoleh capaian kinerja sebesar 100%.

Main Menu

Who's Online

We have 1 guest online

Powered by Triple-C

Feature Demo Image

Version 2.0 has arrived!

Dominion is sporting the brand new expansion of the Gantry Framework, version 2.0, bringing with it many new and powerful tools and features.

Learn More