Pengkajian Teknologi Kolam Terpal

Pengkajian Teknologi Penyuluh Perikanan Kab. Buleleng dengan Budidaya Lele dalam Wadah Terpal (Kolam Terpal)

Komoditi perikanan saat ini menjadi salah satu primadona sebagai upaya peningkatan pendapatan keluarga, masyarakat dan Devisa Negara. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Kementrain Kelautan dan Perikanan yang manjadikan Indonesia sebagai penghasil perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015. Dilihat dari potensi yang ada khususnya di Kabupaten Buleleng, maka target tersebut akan mampu dicapai, baik melalui intensifikasi, deversifikasi dan ekstensifikasi usaha perikanan.

Sejalan dengan perkembangan teknologi pembudidayaan ikan yang saat ini terus berkembang sesuai dengan dinamika yang ada, maka para Penyuluh Perikanan Kabupaten Buleleng dituntut harus mampu menguasai berbagai teknologi perikanan yang saat ini terus dansedang berkembang. Untuk mengasah dan menyegarkan Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap (PKS) para penyuluh yang ada, maka dilakukanlah suatu upaya Pengkajian Teknologi Budidaya Lele dalam Wadah Terpal. Mengapa memilih menggunakan wadah terpal?. Hal ini mengingat kebanyakan persawahan/lahan yang dijadikan media pembudidayaan ikan memiliki struktur tanah yang tidak kedap air (cenderung berpasir) sehingga tidak dapat menampung air dalam jumlah yang cukup selama masa budidaya. Disamping itu mengingat saat ini kebutuhan air (khususnya untuk irigasi) masih menjadi kendala utama di sektor pertanian sehingga ada waktu-waktu dimana mereka mendapatkan air secara bergiliran setiap 2-3 hari sekali. Disatu pihak komoditi perikanan (ikan air tawar) memerlukan media air yang cukup di sepanjang masa pemeliharaannya. Untuk menjawab tantangan tersebut, maka saat ini para pembudidaya ikan air tawar disarankan melakukan pemeliharaan ikan dengan wadah/media terpal. Sebab dengan menggunakan terpal biaya akan lebih irit/murah jika dibanding membuat kolam permanen (beton) dan lokasi kolam juga dapat dibuat di sekitar pekarangan rumah, di bawah tanaman perkebunan (kopi,cacao,dll).

a. Keunggulan penggunaan terpal antara lain :

· Lebih fleksibel, dimana penggunaannya dapat di integrasikan dengan kegiatan lain, seperti longyam, pertanian maupun perkebunan dan juga dapat ditempatkan disekitar rumah/pekarangan.

· Efesiensi pengunaan air, mengingat untuk budidaya lele sistim terpal kita hanya perlu mengisi air pada awal dan penambahan air dapat juga disesuaikan dengan kondisi, misalnya air dalam kolam terpal berkurang. Dengan demikian sebagai pembudidaya ikan lele tidak akan menjadi penyaing dalam pengambilan air irigasi.

· Dapat dibuat dan ditempatkan pada kondisi lahan yang poros/sulit air irigasi

· Air media budidaya tidak merembes keluar areal, sehingga akan mengirit penggunaan air bahkan air bekas pemeliharaan sebelumnya hamper setengah bagian dapat juga digunakan lagi untuk pemeliharaan selanjutnya.

· Biaya pembuatannya lebih murah daripada membuat kolam beton/permanent atau semi permanent.

· Jangka waktu ekonomis kolam terpal dapat mencapai 3 (tiga) tahun atau 4 kali siklus produksi.

· Mudah cara merakit/membuat kolam sistim terpal.

b. Kelemahan sistim ini antara lain :

· Terpal mudah rusak/sobek akibat terkena sinar matahari langsung (untuk menyiasatinya maka kolam terpal harus diberi atap dari daun kelapa atau plastic paranet)

· Dalam pemanenan ikannya kita harus mengeluarkan air dengan menggunakan pompa, ditimba atau disipon menggunakan selang.

· Dengan terpal, maka suhu dalam kolam akan lebih tinggi akibat adanya terpal kena sinar matahari dan untuk menyiasatinya pada bagian bawah terpal kita berikan sekam.

· Dalam pemeliharaan sistim terpal, makanan alami yang tersedia sangat minim untuk itu kita harus memberikan pakan tambahan (pellet) dengan kadar protein tinggi.

· Pemberian pupuk untuk penumbuhan makanan alami terutama untuk benih ikan lele harus menggunakan kantong-kantong agar pupuk tidak menyebar dan mengotori dasar kolam.

c. Pemeliharaan kolam terpal

· Keringkan kolam terpal

· Amplas pada sisi-sisi bagian yang bocor lalu oleskan lem

· Siapkan sepotong terpal untuk menambal bagian yang bocor, amplas dan kemudian oleskan lem

· Biarkan selama 5 menit

· Tempelkan sepotong terpal tadi pada bagian yang bocor

· Setelah 1 jam kolam sudah dapat digunakan kembali

d. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan pengkajian teknologi budidaya lele dumbo sistim terpal antara lain :

a. Untuk mengetahui padat tebardan SR yang optimal dalam usaha beternak lele dumbo dengan menggunakan wadah terpal.

b. Untuk mengetahui tingkat Feed Concentration Ratio (FCR) yang diperoleh selama masa pemeliharaan.

c. Untuk mengetahui tingkat keuntungan/kerugian dalam usaha beternak lele dumbo sistim terpal.

d. Untuk mengetahui Jangka Usia Ekonomis (JUE) penggunaan wadah terpal.

e. Untuk dapat memberdayakan penyuluh dan petugas perikanan sebagai salah satu upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kemauan serta kemandirian dalam berusaha guna dijadikan bekal dalam melakukan pembinaan kepada kelompoknya.

e. PELAKSANAAN

I. Lokasi dan Waktu

a. Lokasi Kegiatan : Halaman Belakang Diskanla Kab. Buleleng

b. Luas petakan kolam : 4 x 4 x 0,6 meter dan 2 x 2 x 0,6 meter

c. Jumlah benih yang ditebar : 200 x 40 M² (8.000 ekor) benih ukuran 3-5 cm.

d. Waktu pelaksanaan : Mei – Oktober 2010

e. Biaya : Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah)

f. Sumber biaya : APBD Kab. Buleleng

g. Padat tebar : 300 ekor/m² (2.500 ekor per 2 x 4 x 1 meter)

h. Tanggal penebaran : 17 Juni 2010

II. Persiapan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana budidaya harus dipersiapkan terlebih dahulu sehingga pada waktu pembuatan kolam terpal semua bahan sudah tersedia. Adapun sarana pembuatan kolam terpal dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Sarana dan Prasarana budidaya lele dumbo

No.

Jenis alat/nahan

Keterangan

1.

Benih lele 2.500 ekor (ukuran 5-8 cm)

Sumber benih dari BBI Ringdikit

2.

Pakan :

- Pellet apung sebanyak 240 kg


3.

Bahan-bahan :



- Terpal metalik 6 x 8 meter

- Usuk 3 meter sebanyak 12 batang

- Papan begesting 20 lembar

- Batako 150 buah

- Pipa ¼ dim sebanyak 2 lonjor

- Sok derat ¼ dim sebnayk 2 buah

- Paku 7 cm sebanyak 2 kg


4.

Vitamin dan obat-obatan

- Vitamin sebanyak 2 bungkus

- Garam ikan sebanyak 2 bungkus

Untuk menetralisir pH dan mensterilkan benih agar terhindar dari penyakit bawaaan

5.

Peralatan lainnya :

- Pompa air (weter pump) mak 2 meter sebanyak 1 buah

- Serok/seser sebanyak 1 buah

Untuk mensuplai kebutuhan oksigen terlarut


III. Cara Pembuatan


Setelah semua bahan tersedia, terlebih dulu ratakan tanah yang akan di pakai untuk mendirikan kolam terpal, jangan sampai ada benda tajam di atasnya. Pada bagian dasar terpal diberikan sekam setebal ± 5 cm sebagai stabilitas suhu dan juga untuk menghindari agar terpal tidak terkeca batu atau benda lainnya sehingga terhindar dari kebocoran. Adapun cara pembuatan kolam terpal yaitu :

· Pasang patok (dari kayu usuk/kayu hidup) berbentuk persegi dengan panjang 4 meter dan lebar 2 meter dengan ketinggian 70-80 cm (jika sudah ditanam patok yang kelihatan ± 60 - 70 cm)

· Di sela-sela patok tersebut diberikan lagi beberapa patok tambahan dengan jarak 25 cm dengan ketinggian yang sama

· Setelah patok tersebut cukup kuat, lalu pagari/pasang belahan papan (begesting) atau bilah bambu berjajar dari permukaan tanah terus ke atas sampai ketingian 100 – 120 cm.

· Agar patok/rangka terpal lebih kuat dapat pula diberikan tumpukan batako pada bagian luar

· Jika rangka sudah kuat, maka terpal sudah siap dipasang pada bagian dalam petakan persegi yang telah disiapkan.

· Alasi rangka tersebut dengan sekam setebal 3-5 cm untuk menghindari kebocoran dan pengaruh benda tajam dibawahnya.

Setelah rangka selesai dibuat dan cukup kuat, maka terpal sudah dapat dipasang pada bagian dalam rangka. Pemasangan terpal harap hati-hati agar jangan sampai ada terpal yang bocor dan terlipat tidak beraturan. Pertama bentangkan terpal di dalam kotak persegi, kemudian ratakan, lipat terpal persis melekat di dinding/rangka, atur lipatan di setiap sudut supaya kelihatan baik, ikat kuat ujung terpal pada bagian sudut dan atas rangka. Jika masih ada terpal yang kelihatan tersisa, dapat dilipat ke bawah. Untuk memperpanjang jangka usia ekonomis terpal dan juga menjaga stabilitas suhu dalam kolam terpal, maka di atas kolam perlu dibuat pelindung/naungan yang terbuat dari daun kelapa atau plastik/ paranet. Untuk memudahkan sirkulasi keluar masuknya air dalam bak terpal, perlu dibuat/dipasang pipa pengeluaran yang letaknya di salah satu pojok/sudut bak.

PA260383 PA260373 PA260382

Gambar 1. Persiapan kolam terpal

PA260376PA260375PA260385Gambar 2. Penebaran Benih

IV. Pemeliharaan Dan Perawatan Lele Dalam Kolam Terpal

Untuk mendapatkan lele yang berkualitas dan hasil yang memuaskan maka kondisi kolam harus disesuaikan dengan habitat yang disukai lele. Oleh karena itu, kolam karpet yang telah dibuat harus disesuaikan terlebih dahulu. Bibit lele yang baru dibeli juga harus diadaptasikan dan diberi perlakuan sebelum dimasukkan ke dalam kolam.

a. Perawatan Lele Dalam Kolam Terpal

Perawatan lele di kolam karpet pada umumnya tidak berbeda dengan perawatan di kolam lainnya. Beberapa perawatan lele yang perlu diperhatikan dalam kolam karpet adalah sebagai berikut.

b. Penambahan air dalam kolam Terpal

Bila air dalam kolam karpet berkurang karena proses penguapan maka tambahkan air hingga tinggi air kembali pada posisi normal. Penambahan air dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu, misalnya satu minggu sekali. Panambahan air dilakukan apabila ketinggian air dalam bak terpal berkurang/kurang dari ketinggian yang diharapkan (dalam setiap penambahan, air perlu ditambah setinggi 10 - 15 cm sehingga kualitas air tetap terjaga). Jika air didalam kolam berkurang perlu ditambahkan hingga ketinggian normal kembali

c. Tanaman pelindung dalam kolam

Tanaman pelindung di dalam kolam berfungsi untuk melindungi lele dari terik sinar matahari dan juga sebagai makanan tambahan bagi lele. Selain itu, tanaman juga dapat mengisap kotoran di dalam air.

Jenis tanaman pelindung/tanaman air yang biasa digunakan yaitu kapu-kapu dan enceng gondok. Dalam satu kolam cukup dipilih salah satu tanaman tersebut. Jumlah tanaman di dalam kolam dibatasi hingga sepertiga bagian dari luas permukaan air kolam. Pertumbuhan akar eceng gondok pun harus dibatasi dan harus dikurangi secara berkala. Untuk membatasi pertumbuhannya yaitu dengan memberi pembatas berupa bambu yang diapungkan dan diberi tali serta bandul batu pada kedua ujungnya. Cara ini dilakukan selain tanaman tampak rapi juga agar sinar matahari dapat masuk ke dalam kolam. Cahaya matahari dibutuhkan dalam proses pertumbuhan lele. Tanaman air di dalam kolam berfungsi untuk melindungi lele dari terik sinar matahari dan makanan tambahan

d. Naungan

Agar karpet/terpal yang digunakan sebagai wadah budidaya dapat bertahan lebih lama maka perlu juga diberi naungan yang terbuat dari daun kelapa, paranet dan jaring

V. Penebaran benih

Langkah pertama :

Sebelum pemeliharaan kolam terpal dapat diisi Lumpur atau tidak tergantung situasi dan kondisi yang ada di lapangan.

Kalau melakukan pengisian Lumpur dilakukan dengan :

1. Bagian dalam kolam karpet dicuci dengan menggunakan kain atau sikat. Pencucian ini mutlak dilakukan untuk menghilangkan bau lem atau zat kimia lainnya yang dapat mematikan bibit ikan. Setelah itu, bagian dalam kolam dikeringkan dengan menggunakan pipa pralon A dan B.

2. Setelah itu, menyiapkan tanah yang halus atau lumpur yang sudah jadi untuk dimasukkan ke dalam kolam karpet dengan ketebalan kurang lebih 10 cm. Sebaiknya tanah atau Lumpur yang telah jadi tersebut tidak mengandung pestisida atau bahan kimia yang dapat mematikan ikan.

3. Kolam diisi dengan air setinggi kurang lebih 10 cm dari atas permukaan lumpur. Perendaman lumpur dilakukan sekitar 3 - 4 hari (lebih lama akan lebih baik). Proses tersebut untuk menstabilkan keadaan air kolam, misalnya mengendapkan partikel-partikel yang dapat membahayakan pertumbuhan bibit lele. Jika proses perendaman lumpur tersebut tidak dilakukan, maka kematian bibit akan relatif besar. Pada saat proses perendaman lumpur ini, benih jangan dimasukkan dahulu.

4. Setelah proses perendaman lumpur, air kolam ditambah hingga setinggi 30 cm. Kedalaman tersebut sangat ideal bagi bibit yang sewaktu-waktu bergerak ke permukaan air untuk proses pernafasannya. Jika kedalamannya melebihi tinggi air tersebut maka lele akan lebih banyak mengeluarkan energi untuk bergerak ke permukaan air sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan badannya. Pengisian air ke kolam karpet diusahakan sampai pada ketinggian ideal

Langkah kedua :

Untuk pengkajian budidaya lele dalam terpal, kita tidak menggunakan media Lumpur, dalam hal ini kita langsung memasukan air dari sumber (PAM) kedalam bak terpal, dengan urutan sebagai berikut :

1. Kedalaman air yang digunakan 25 cm – 50 cm ( tinggi/selisih antara permukaan air dan terpal minimal 20 cm). dengan adanya selisih jarak tersebut diharapkan lele tidak meloncat keluar kolam. Setelah air penuh, kemudian diberikan garam dapur 25 gr/m3 air dan air perasan kunyit. Setelah air penuh, berikan aerasi agar kaporit yang terkandung dalam air PAM menguap.

2. Bila perlu diberi pukan awal dilakukan 2 minggu sebelum tebar dengan dosis pupuk kandang yang diberikan yaitu dengan dosis 500 - 700 gr/m2 atau dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, SP 36 20 gram/m2 dan ammonium nitrat 15 gram/m2.

3. Untuk tahap awal dan mempertahankan kualitas air, perlu diberikan probiotik 10 ml/m3 air dengan tujuan untuk mempercepat penguraian bahan organik dan juga diberikan garam ikan sebanyak 2 kg/bak dengan tujuan sterilisasi dan membunuh bibit penyakit yang ada dalam air.

4. Untuk pupuk kandang sebaiknya diberikan dengan cara digantung menggunakan karung atau jaring yang bertujuan agar hanya sari-sari pupuk saja yang keluar, sedangkan ampasnya tidak ikut keluar, dimana ampas pupuk dapat juga mengotori kolam yang pada gilirannya nanti dapat menjadi media penyebaran penyakit.

5. Kolam terpal siap untuk digunakan setelah 3 – 5 hari proses pemupukan dan persiapan lainnya, dimana pada saat itu plangkton didalam air diharapkan sudah tumbuh. Makanan alamiah yang berupa zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).

6. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.

Langkah Ketiga :

1. Selanjutnya disiapkan bibit ukuran 3 – 5 cm dengan padat tebar 500 – 1.000 ekor/m2 atau 5-8 (atau berat 10 – 15 gram/ekor) dengan padat tebar 250 – 500 ekor/m². Pemeliharaan dalam kolam karpet, sebaiknya tidak menggunakan bibit yang berukuran kecil (5 - 7 g) agar tidak terjadi banyak kematian. Jadi, bibit yang layak untuk kolam karpet harus berukuran 8 – 10 cm, sedangkan yang harus dihindari adalah pemakaian bibit sebesar batang korek api. Namun, pemakaian bibit berukuran lebih besar akan lebih baik dan waktu pemeliharaan lebih cepat (misalnya 2,5 bulan sudah mencapai ukuran layak dikonsumsi). Bibit yang baru dibeli (baru tiba) jangan langsung dimasukkan ke dalam kolam. Bibit yang ada dalam bungkusan kantong plastik tersebut harus dituangkan bersama airnya ke dalam ember. Kemudian setiap satu jam ditambahkan air dari kolam ke dalam ember tersebut. Penambahan air tersebut dilakukan hingga 3 kali. Tujuannya, agar bibit lele dapat beradaptasi dengan suhu air dalam kolam.

2. Setelah itu, bibit yang telah diadaptasikan tersebut dimasukkan ke dalam kolam karpet. Pemberian pakan berupa pelet yang telah dihaluskan dapat diberikan setelah beberapa jam kemudian setelah ikan menyebar diseluruh bagian kolam.

VI. Pemberian Pakan

Ikan lele tergolong jenis ikan carnivora (pemakan daging), akan tetepi semasa kecil lele juga menyukai tanaman renik (phytoplangton). Kadang-kadang untuk menyiasati agar pengeluaran biaya pakan (pellet) tidak berlebih dapat juga diberikan pakan nabati (pakan hidup) seperti cacing, bekicot, keong emas dan juga daun-daunan yang sudah ditumbuk dan direbus.

Bibit lele yang masih kecil ukuran lubang mulutnya pun kecil sehingga pakan pelet yang diberikan harus dihaluskan (digerus). Pemberian pelet halus dilakukan selama minggu pertama sampai minggu kedua (awal pemeliharaan). Setelah itu pakan tidak perlu dihaluskan karena bukaan mulut ikan sudah cukup besar. Pakan diberikan 2-3 kali sehari pada pagi, sore dan malam hari hari pada jam tertentu dan berkesinambungan.

Upaya untuk menekan pengeluaran biaya pembelian pakan lele dumbo terus dilakukan. Pakan lele berupa pelet buatan pabrik dianggap sangat mahal. Solusinya yaitu dengan memberikan keong mas (siput murbei) sebagai pakannya. Bagi petani padi, keong mas ini merupakan hama yang selalu muncul pada musim tanam padi.

VII. Penumbuhan dan Pemberian Pakan alami

Upaya penumbuhan pakan alami (plangton) dapat dilakukan dengan pemupukan dan pemberian inokulasi plangton dari tempat lain. Dengan adanya manfaat pangton nabati maka kualitas air dalam bak akan tetap terjaga, disamping itu plangton nabati dapat juga menyerap gas-gas beracun dalam bak sehingga lele terhindar dari behaya keracunan.

Disamping pakan alami secara langsung dengan pemupukan, juga dapat diberikan pakan hewani dari luar (cacing, bekicot, keong,dll).Kelompok masyarakat uji-terap di beberapa lokasi telah mampu melakukan penekanan biaya terhadap pembelian pakan lele (pelet) dengan memberikan pakan berupa keong mas dan bekicot yang diberikan saat lele berusia 1 - 3 bulan. Pemanfaatan keong mas untuk pakan lele akan membantu mengurangi jumlah keong mas sebagai hama tanaman padi. selain pakan dari jenis hewani dapat juga digunakan pakan tambahan dari jenis nabati yaitu tanaman mata lele.

Mata lele adalah tanaman air yang berukuran kecil, tidak dapat dibedakan antara daun dan batang, mengapung di permukaan perairan serta tumbuh meluas saperti matras di perairan sungai, rawa, kolam, dan danau. Penyebarannya sangat cepat di badan air yang kaya nutrient seperti nitrogen dan fosfat. Toleransi terhadap pH sangat tinggi di mana mata lele dapat hidup diperairan dengan pH antara 4,5—7,5. Mata lele dikaitkan sebagai mikrofauna yang pentingsebagai sumber makanan baik bagi ikan, ternak, dan kemungkinan bagi manusia. Hamparan mata lele di perairan dapat berfungsi sebagai tempat persembunyian berbagai serangga yang larvanya berguna sebagai pakan ikan (Lin dalam Lannan et al., 1983).

Mata lele selain sebagai pakan alami bagi ikan dan ternak juga sudah cukup lama diketahui sebagai sarana untuk penjernih air melalui penyerapan logam berat dan racun dari berbagai tipe limbah perairan (Anonim, 1979). Di berbagai negara maju mata lele ini diproduksi secara besar–besaran dengan teknologi tinggi dan dibangun sebagai reaktor untuk proses pengolahan penjernihan atau pemurnian limbah kota secara biologis. Gas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai energi alternatif. Sebagai tanaman air mata lele yang ditahun 1960-an dianggap sebagai tanaman pengganggu perlu kajian berkaitan dengan taksonomi, kandungan gizi, dan potensi sebagai pakan ikan dan sarana penjernihan atau pemurnian air limbah.

VIII. Pakan Buatan (Pellet)

Berikut ini diberikan gambaran tentang perhitungan jumlah kebutuhan pakan 1.000 ekor lele dengan masa pemeliharaan sampai dengan 3 bulan. Pemberian pakan harian yang ideal yaitu 3 % dari berat badan. Perhitungan dilakukan per 10 hari seperti dijelaskan pada Tabel berikut.

Tabel 1.Perhitungan jumlah kebutuhan pakan lele dumbo 1.000 ekor dengan masa pemeliharaan sampai dengan 3 bulan

No

Hari ke (setelah tebar)

Berat rata-rata per ekor (gram)

Kebutuhan pakan per ekor (gram)

Kebutuhan pakan per 10 haru untuk 1.000 ekor bibit

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1 – 10

11 – 20

21 – 30

31 – 40

41 – 50

51 – 60

61 – 70

71 – 80

81 – 90

12

25

40

55

70

85

100

115

130

0,36

0,75

1,20

1,65

2,10

2,55

3,00

3,45

3,90

3,60

7,50

12,00

16,50

21,00

25,50

30,00

34,50

39,00

dari tabel tersebut dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut.

- Kebutuhan pakan lele setiap ekor per hari adalah seberat 3 % dari berat badannya

- Berat badan lele pada usia 90 hari (3 bulan) adalah 130 g. Dengan demikian, dalam satu kilogram akan berisi 7 - 8 ekor lele.

- Selama 3 bulan, kebutuhan pakan pelet untuk 1.000 ekor lele yaitu 189,6 kg.

Sebagai alternatif untuk mencukupi kebutuhan pakan lele, sebaiknya diberikan pakan substitusi seperti dedak halus, limbah dapur, rayap, keong mas (siput murbei) bahkan bangkai ayam.

Jika di lingkungan sekitar terdapat sawah yang dipenuhi oleh keong mas maka hama tanaman padi tersebut dapat dimanfaatkan untuk pakan substitusi, sedangkan pakan substitusi seperti limbah dapur dapat diperoleh dari warung-warung nasi atau restoran. Untuk mengumpulkan limbah tersebut, sebaiknya disediakan tempat (ember) limbah yang dapat diambil setiap waktu. Demikian pula, jika di lingkungan sekitar terdapat peternakan ayam. Ayam-ayam yang mati dapat digunakan untuk pakan lele. Pakan substitusi ini mulai diberikan pada saat lele berusia satu bulan. Bangkai ayam yang digunakan untuk pakan harus masih segar (belum berbau busuk). Kemudian, bangkai tersebut dibakar hingga bulu-bulunya habis. Selanjutnya, badan ayam diikat dengan tali dan dimasukkan ke dalam kolam setelah daging ayam dingin. Ujung atas tali diikatkan pada tiang dinding kolam atau pada bambu/kayu yang dipalangkan di bagian atas lebar kolam. Hal ini bertujuan agar tulang-tulang ayam mudah diambil dan tidak bertebaran di sekeliling dasar kolam.

Pakan dari keong mas diberikan dengan cara mencacahnya terlebih dahulu. Setelah dicacah, keong mas dimasukkan ke dalam ember dan direndam beberapa saat dengan air mendidih. Setelah itu, air di dalam ember dibiarkan hingga menjadi dingin kemudian dimasukkan ke dalam kolam sesuai dengan kebutuhan.

Jika keong mas jumlahnya cukup banyak maka dapat disimpan dalam kolam gali tanpa diberi pakan. Sebaiknya, keong mas disimpan untuk kebutuhan pakan lele selama periode satu minggu/awal penebaran. Selain itu, daging keong mas dapat dikeringkan untuk persediaan pakan lele. Namun, sebelum dimasukkan ke dalam kolam, keong mas harus direbus terlebih dahulu (atau direndam dalam air mendidih) agar dagingnya menjadi lunak. Untuk memenuhi kebutuhan pakan lele dalam usaha makro, sebaiknya pakan pelet tersebut dibuat sendiri. Akhirnya, dari uraian tentang pakan lele perlu digarisbawahi upaya yang harus dilakukan yaitu menekan pengeluaran biaya pembelian pakan untuk memaksimalkan perolehan hasil usaha.

Tabel 2. Perkembangan Ikan dan Total Pakan yang dihabiskan s/d akhir September 2010

No

Uraian

Jumlah ikan (ekor)

SR (%)

Berat rata-rata (gr)

Berat Total Ikan (kg)

Prosentase Pakan (%)

Jlh. Pakan Harian (gr)

Total Pakan (kg)

Keterangan




1

Penebaran benih, 17/6-2010

2.500

100

2,8

7,00

5

0,350

0,350

Berat rata-rata 2,8 gr/ekor


2

Minggu I ( tgl 18/6-2010)

2.500

100

3,4

8,50

5

0,425

0,425

Pemberian pakan 3 kali sehari :


3

Minggu I ( tgl 19- 21 /6-2010)

2.375

95

3,8

9,03

5

0,451

1,354

- Pagi 25 - 30 %


4

Minggu II (tgl 22 - 26/6-2010)

2.375

95

5,5

13,06

5

0,653

3,266

- Siang 25 - 30%


5

Minggu III *tgl 27 - 30/6/2010)

2.375

95

6,5

15,44

5

0,772

3,088

- Sore 45 %


6

Minggu IV ( tgl 1 -7/7 -2010)

2.250

90

7

15,75

5

0,788

5,513

Sampling/grading tgl 6 Juli 2010


7

Minggu V (8 - 14/7 - 2010)

2.250

90

8,5

19,13

5

0,956

6,694

Grading II tgl 3 Sept. 2010


8

Minggu VI (tgl 15 - 21/7 - 2010)

2.250

90

15

33,75

5

1,688

11,813



9

Minggu VII ( tgl 22 - 28/7 - 2010)

2.125

85

20

42,50

4

1,700

11,900



10

Minggu VIII (tgl 29 - 31/7 - 2010)

2.125

85

30

63,75

4

2,550

7,650



11

Minggu IX (tgl 1 - 7/8 - 2010)

2.125

85

35

74,38

4

2,975

20,825



12

Minggu X (tgl 8 - 14/8 -2010)*

1.375

65

40

55,00

4

2,200

15,400



13

Minggu XI (tgl 15 - 22/8 - 2010)*

1.375

65

42

57,75

4

2,310

16,170



14

Minggu XII (tgl 23 - 31/8 - 2010)*

1.375

65

45

61,88

3

1,856

14,850



15

Minggu XIV (tgl 1 - 8/9 - 2010)*

1.375

65

55

75,63

3

2,269

15,881



16

Minggu XV (tgl 9 - 15/9 - 2010)*

1.375

65

60

83

3

2,475

17,325



17

Minggu XVI (tgl 16 - 22/9 - 2010)*

1.375

65

65

89

3

2,681

18,769



18

Minggu XVI (tgl 23 - 31/9 - 2010)*

1.375

65

70

96

3

2,888

20,213














Jumlah




96



191,483



Keterangan : sebanyak 750 ekor digunakan sebagai bahan pameran pembangunan



sesuai berita acara terlampir.










*SR tidak rendah tetapi dipakai sebagai bahan pameran


VIII. Penjarangan/Grading)

Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang. Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :

o Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.

o Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar).

o Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.

Cara penjarangan pada benih ikan lele :

- Minggu 1-2, kepadatan tebar 250 - 350 ekor/m2

- Minggu 3-4, kepadatan tebar 200 – 250 ekor/m2

- Minggu 5-6, kepadatan tebar 100 – 150 ekor/m2

- > 7 minggu – panen, kepadatan tebar 25 – 50 ekor/m2

Dalam melakukan kegiatan penjarangan/grading, diusahakan dalam satu kolam terdapat ukuran benih yang sama sehingga mengurangi sifat kanibalisme dari lele tersebut.

PA260372PA260384 PA260381

Gambar 3. Suasana Grading

IX. Pengendalian Hama dan Penyakit

a. Hama

Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu

kehidupan lele. Hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.

Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

b. Penyakit

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

1) Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.

2) Penyakit Tuberculosis

Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri dipermukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dansirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.

3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.

4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.

Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5) Penyakit Cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2)Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.

6) Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

Dalam mengendalikan hama dan penyakit ikan diupayakan untuk menggunakan bahan bahan alami yang tidak membahayakan jika dikonsumsi manusia seperti garam dapur, kapur, kunyit, remasan daun pepaya, lengkuas dll.

Untuk mengendalikan hama/penyakit dan mempertahankan kualitas air agar tetap terjaga, maka dilakukan aplikasi probiotik dengan bahan :

  • Probiotik 100 gram
  • Katul/dedak halus 100 gram
  • Air 3 liter
  • Gula merah 300 gram
  • Ragi roti sebanyak 2 buah

Caranya : Ambil bahan katul 100 gram, probiotik 100 gram aduk sampai merata (homogen), lalu ambil gula merah yang sudah dihancurkan sebanyak 300 gram dan setelah homogen diberikan air sebanyak 3 liter. Setelah larutan jadi taruh dalam ember plastik dan tutup larutan tersebut dengan plastik hitam (gelap) lalu larutan tersebut difermentasi dan diaerasi selama 1 (satu) malam. Setelah dibiarkan semalamam, ke esokan paginya kita ambil air larutan tersebut lalu langsung diaplikasikan ke kolam pemeliharaan. Sedangkan sisa/ampasnya dapat difermentasi lagi semalam guna aplikasi hari berikutnya. Aplikasi tersebut perlu dilakukan secara berkala sehingga kualitas air tetap terjaga.

PA250362PA250361PA250366

PA250363PA250365PA250358

Gambar 4. Pembuatan Media Probiotik

X. Panen dan Pasca Panen

a. Panen

Lele dipanen pada umur 4 – 6 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Waktu panen diusahakan pada pagi atau sore hari yaitu pada waktu cuaca tidak panas dan suhu stabil (tidak begitu tinggi). Apabiula lebih dari 6 bulan masih ada lele yang kerdil/belum mencapai ukuran konsumsi maka harus segera dipanen agar tidak membebani biaya pakan. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 150 - 200 gram/ekor.

Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan. Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring. Setelah dipanen, biarlah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1- 2 jam (untuk pengangkutan jarak dekat) dan diberok selama semalam (untuk pengangkutan jarak jauh) dengan tujuan agar feses atau kotoran ikan keluar sehingga dapat lele tidak stress dan dapat mutu dan kualitas dapat dipertahankan.

b. Pengangkutan dan Pemasaran

Setelah dipanen, sebaiknya lele langsung dipasarkan dalam keadaan hidup (segar). Adapun cara pengangkutan yang dapat digunakan adalah dengan system terbuka dan tertutup. Kalo menggunakan sistem terbuka sebaiknya menggunakan alat berupa tong/drum/bak. Untuk menguragi kematian selama perjalanan akibat perubahan suhu yang signifikan maka pada wadah tong/bak ditambahkan bongkahan es yang dibungkus plastik. Cara pengangkutan ini dapat dilakukan apabila jarak angkut cukup dekat atau waktu pengangkutan tidak lebih dari 4 jam.

Kalau menggunakan sistim tertutup, maka harus disediakan oksigen dalam jumlah yang cukup. Caranya siapkan kantong plastik, berikan air ¼ bagian dari kantong, isikan lele sebanyak 2-3 kg/kantong, berikan oksigen 2/3 bagian dari kantong. Pengangkutan sistim ini dilakukan apabila jarak angkut lebih dari 5 jam.

LEAVE A REPLY

Security code
Refresh

Main Menu